Tulisan kali ini agak panjang, namun tak mengapa, semoga bermanfaat untuk banyak orang...
Kemarin lusa, tidak sengaja Saya membaca status Fesbuk Akh Deni yang melintas di beranda.
Kurang lebih begini...
"Jika ada seorang teman mengingatkanmu tentang puasa 6 hari di bulan Syawal, maka berbahagialah. Sebab kamu berteman dengan orang sholeh..."
Sebagaimana kita tau, diantara kenikmatan berteman dengan orang sholeh adalah ia senantiasa mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan.
Karenanya, bersyukurlah jika saat ini berteman dengan orang sholeh. Karena ia akan selalu menjadi cahaya dalam hidupmu...
Namun demikian, bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan orang salah. Sebab ia merupakan tempat kita berdakwah. Silahkan berteman dengan siapa saja. Sip ya...?
Balik lagi soal status Fesbuk teman Saya diatas...
Begini...
Status fesbuk tsb, jadi mengingatkan Saya dengan hadits Nabi yang berbunyi...
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka ibarat puasa satu tahun penuh.”
Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim, nomor haditsnya lupa 🙈
Alhamdulillah Ramadhan telah selesai, dan kita berharap bisa berjumpa kembali di Ramadhan berikutnya.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa menjalankan ibadah Ramadhan saja memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Seperti shaum di siang hari, tarawih di malam hari, Baca Quran setiap hari, itikaf di akhir bulan selama 10 hari, dan masih banyak lagi...
Lalu, kenapa harus ada anjuran shaum lagi setelah Ramadhan selesai...??
Begitu kira-kira pertanyaan yang sering kita dapatkan. Oleh sebab itu, izinkan Saya mensharingkan hal ini agar semuanya jelas dan tuntas.
Ada ulama yang berpendapat, bahwa berpuasa selama bulan Ramadhan diibaratkan berpuasa 10 bulan. Ketika kita melakukan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, diibaratkan puasa 2 bulan. Makanya dalam hadits diatas, siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan secara FULL kemudian diikuti puasa syawal 6 hari, ibarat berpuasa setahun penuh...
Ada beberapa rahasia (hikmah) yang jarang diketahui banyak orang terkait ini.
Diantaranya, puasa Syawal ibarat shalat sunnah Rawatib yang mengiringi shalat wajib. Ya, ia mengiringi puasa Ramadhan Anda, dan akan melengkapi kekurangan dan menyempurnakan pahalanya...
Tak hanya itu, ia juga akan memperbaiki "kecacatan" puasa kita selama bulan Ramadhan. Sebab kita tidak tau, apakah sudah bagus puasa kita, atau masih banyak kekurangan didalamnya. Jika masih merasa kurang, maka puasa Syawal lah sebagai pelengkap dan penyempurnanya...
Selain itu, melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan tanda cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Sebab beliau sendiri yang menganjurkan. Betapa tidak, kita telah turut menghidupkan sunnahnya.
Sebagaimana sabdanya. .
"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia termasuk orang yang CINTA kepadaku. Dan sesiapa yang CINTA kepadaku, maka akan membersamaiku di syurga..."
NAMUN...
Bagi siapa saja yang belum tuntas melaksanakan puasa Ramadhan, alangkah lebih baiknya selesaikan terlebih dahulu. Sebab puasa 6 hari di bulan Syawal hanya berlaku untuk Anda yang sudah melakukan puasa Ramadhan secara FULL. Jangan sampai mendahulukan yang sunnah, dan mengakhirkan yang wajib. Ini keliru...
Lalu bagaimana, agar bisa ikut berpuasa 6 hari di bulan Syawal...?
Solusinya tiada lain, SEGERA lengkapi kekurangan puasa di bulan Ramadhan dengan cara mengqodhonya. Kemudia memohon kepada Allah agar dimudahkan semuanya. Semoga dengan demikian, Allah izinkan kita melaksanakan sunnahnya yang mulia...
Allahu a'lam...
Demikian secangkir sharing di pagi ini, kurang lebihnya Saya haturkan mohon maaf lahir batin. Terimakasih sudah membacanya sampai tuntas.
Tidak perlu dishare. KECUALI bermanfaat untuk saudara-saudara kita diluar sana.
Sekian dari Saya, LH...
Karawang, 27 Juli 2017
_______
Nb. Puasa syawal boleh dilakukan secara berturut-turut selama 6 hari, boleh juga secara terpisah. Yang penting 6 hari selama bulan Syawal. Namun, jika tidak ada halangan apapun, 6 hari secara berturut-turut itu lebih utama, karena termasuk menyegerakan kebaikan.
Kemarin lusa, tidak sengaja Saya membaca status Fesbuk Akh Deni yang melintas di beranda.
Kurang lebih begini...
"Jika ada seorang teman mengingatkanmu tentang puasa 6 hari di bulan Syawal, maka berbahagialah. Sebab kamu berteman dengan orang sholeh..."
Sebagaimana kita tau, diantara kenikmatan berteman dengan orang sholeh adalah ia senantiasa mengingatkan dan mendoakan dalam kebaikan.
Karenanya, bersyukurlah jika saat ini berteman dengan orang sholeh. Karena ia akan selalu menjadi cahaya dalam hidupmu...
Namun demikian, bukan berarti kita tidak boleh berteman dengan orang salah. Sebab ia merupakan tempat kita berdakwah. Silahkan berteman dengan siapa saja. Sip ya...?
Balik lagi soal status Fesbuk teman Saya diatas...
Begini...
Status fesbuk tsb, jadi mengingatkan Saya dengan hadits Nabi yang berbunyi...
من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر
“Siapa saja yang berpuasa Ramadan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka ibarat puasa satu tahun penuh.”
Hadits tsb diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Muslim, nomor haditsnya lupa 🙈
Alhamdulillah Ramadhan telah selesai, dan kita berharap bisa berjumpa kembali di Ramadhan berikutnya.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa menjalankan ibadah Ramadhan saja memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Seperti shaum di siang hari, tarawih di malam hari, Baca Quran setiap hari, itikaf di akhir bulan selama 10 hari, dan masih banyak lagi...
Lalu, kenapa harus ada anjuran shaum lagi setelah Ramadhan selesai...??
Begitu kira-kira pertanyaan yang sering kita dapatkan. Oleh sebab itu, izinkan Saya mensharingkan hal ini agar semuanya jelas dan tuntas.
Ada ulama yang berpendapat, bahwa berpuasa selama bulan Ramadhan diibaratkan berpuasa 10 bulan. Ketika kita melakukan berpuasa 6 hari di bulan Syawal, diibaratkan puasa 2 bulan. Makanya dalam hadits diatas, siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan secara FULL kemudian diikuti puasa syawal 6 hari, ibarat berpuasa setahun penuh...
Ada beberapa rahasia (hikmah) yang jarang diketahui banyak orang terkait ini.
Diantaranya, puasa Syawal ibarat shalat sunnah Rawatib yang mengiringi shalat wajib. Ya, ia mengiringi puasa Ramadhan Anda, dan akan melengkapi kekurangan dan menyempurnakan pahalanya...
Tak hanya itu, ia juga akan memperbaiki "kecacatan" puasa kita selama bulan Ramadhan. Sebab kita tidak tau, apakah sudah bagus puasa kita, atau masih banyak kekurangan didalamnya. Jika masih merasa kurang, maka puasa Syawal lah sebagai pelengkap dan penyempurnanya...
Selain itu, melaksanakan puasa 6 hari di bulan Syawal merupakan tanda cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Sebab beliau sendiri yang menganjurkan. Betapa tidak, kita telah turut menghidupkan sunnahnya.
Sebagaimana sabdanya. .
"Sesiapa yang menghidupkan sunnahku, maka ia termasuk orang yang CINTA kepadaku. Dan sesiapa yang CINTA kepadaku, maka akan membersamaiku di syurga..."
NAMUN...
Bagi siapa saja yang belum tuntas melaksanakan puasa Ramadhan, alangkah lebih baiknya selesaikan terlebih dahulu. Sebab puasa 6 hari di bulan Syawal hanya berlaku untuk Anda yang sudah melakukan puasa Ramadhan secara FULL. Jangan sampai mendahulukan yang sunnah, dan mengakhirkan yang wajib. Ini keliru...
Lalu bagaimana, agar bisa ikut berpuasa 6 hari di bulan Syawal...?
Solusinya tiada lain, SEGERA lengkapi kekurangan puasa di bulan Ramadhan dengan cara mengqodhonya. Kemudia memohon kepada Allah agar dimudahkan semuanya. Semoga dengan demikian, Allah izinkan kita melaksanakan sunnahnya yang mulia...
Allahu a'lam...
Demikian secangkir sharing di pagi ini, kurang lebihnya Saya haturkan mohon maaf lahir batin. Terimakasih sudah membacanya sampai tuntas.
Tidak perlu dishare. KECUALI bermanfaat untuk saudara-saudara kita diluar sana.
Sekian dari Saya, LH...
Karawang, 27 Juli 2017
_______
Nb. Puasa syawal boleh dilakukan secara berturut-turut selama 6 hari, boleh juga secara terpisah. Yang penting 6 hari selama bulan Syawal. Namun, jika tidak ada halangan apapun, 6 hari secara berturut-turut itu lebih utama, karena termasuk menyegerakan kebaikan.
Komentar
Posting Komentar